Inspirasi dari Supir Taksi

taxi

Siapa sangka, percakapan yang bisa memberi inspirasi dan ngena di hati kebanyakan justru terjadi di dalam taksi. Ya, saya beberapa kali terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan dengan supir taksi. Padahal, sih, naik taksinya cuma setengah jam sampai satu jam saja. Mungkin karena usia para supir taksi yang kebetulan saya tumpangi jauh lebih tua daripada saya, jadi mereka gemar membagikan pengalaman hidup mereka sendiri. Atau mungkin juga karena ngantuk kali ya, kalau cuma diem-dieman di mobil, he-he-he.

Salah satu diskusi dengan seorang supir taksi yang nggak akan mungkin saya lupakan terjadi pada awal Desember lalu. Sore hari itu, saya sendirian ingin pulang dari sebuah komplek universitas menuju rumah. Saya baru saja selesai menjajakan produk saya di acara pameran kampus tersebut. Taksi tersebut datang bertepatan ketika saya masih sibuk mengangkut properti yang saya gunakan. Kayaknya sih, si supir ini bingung melihat barang bawaan saya yang begitu banyak.

Setelah duduk di kursi penumpang, supir ini bertanya singkat,”Habis ngapain, Mbak?” Lantas saya bercerita kalau saya baru saja ikut pameran untuk menjual minuman yang saya olah sendiri. Supir ini terlihat kaget luar biasa. “Ah masa, Mbak? Kok bisa?” Menurutnya, tidak mungkin seorang wanita muda seperti saya mau repot-repot berjualan sendirian. Beliau tambah kaget lagi ketika tahu saya baru saja lulus kuliah. Sampai di situ, saya masih nggak paham kenapa supir ini terlihat heran sekali.

Baru deh, setelah itu, Beliau bercerita. Si Bapak yang mungkin berusia sekitar awal 50-an ini bercerita tentang keponakannya yang berhasil mendapatkan gelar Sarjana dari universitas ternama di Bandung. Sayang, nasibnya sekarang bisa dibilang kurang berhasil. Si keponakan mendapatkan gelar dari jurusan Desain, tetapi rupanya dia cukup ribet ketika melamar pekerjaan. Ia punya ekspektasi yang sangat tinggi akan pekerjaan pertamanya, apalagi setelah mendapatkan embel-embel gelar di belakang namanya. Selain itu, dia juga malas untuk memulai karier dari nol. “Maunya, yang langsung enak, langsung jadi boss”, ujar Pak Supir ini. “Tuh, sekarang dia cuma jadi tukang sablon, sama levelnya kayak orang yang nggak sekolah, kasihan anak istrinya”, tambahnya lagi.

Sambil terus melajukan mobil, Pak Supir terus bercerita dan juga melontarkan pertanyaan kepada saya. Saya bilang saya sudah terbiasa berjualan sejak masih kuliah. Kebetulan, saya mengambil jurusan bisnis, dan kampus saya sangat mendorong mahasiswanya untuk menciptakan bisnis sendiri. Selain usaha ini pun, saya ada pekerjaan lain, yaitu mengajar musik untuk anak-anak.

Kemudian, komentar Bapak ini adalah,”Saya salut banget sama orang-orang kaya Mbak. Biar udah sarjana, nggak sombong, mau kerja dari yang kecil-kecil. Mau repot, mau capek.” Sebelum saya sempat merespon, Bapak ini curhat lagi tentang kekecewaannya terhadap generasi muda jaman sekarang. “Ya, anak sekarang kan maunya apa-apa yang enak ya, Mbak. Yang cewek sukanya ke mal, belanja, makan enak, minta cowoknya yang bayarin”, tambahnya lagi.

Saya pikir sebentar lagi percakapan ini akan usai soalnya taksi udah deket sampai rumah saya. Tetapi, lagi-lagi Pak Supir mengagetkan saya dengan ceritanya yang lain. Ternyata, Bapak ini adalah seorang manajer front desk di sebuah hotel di Jakarta selama 10 tahun sebelum memutuskan untuk menjadi supir taksi. Beliau mencintai pekerjaannya yang terdahulu, hanya saja gaji yang ia dapatkan habis lantaran biaya transportasi yang besar karena jarak dari rumah ke tempat kerja yang sangat jauh. Belum lagi, harus melawan kemacetan dan padatnya lalu-lintas di ibukota setiap harinya dengan motor.

Yang paling menarik adalah, Beliau hanyalah seorang lulusan SMA namun bisa mengepalai beberapa orang di hotel tersebut, termasuk para Sarjana sekali pun. Beliau berulangkali menegaskan bahwa jenjang pendidikan dan gelar bukanlah faktor utama yang menentukan keberhasilan seseorang. Menurut Beliau, kerja keras dan kemauan untuk belajar adalah kunci utamanya. “Percuma kalau Sarjana tapi males, lama-lama bisa kalah sama yang cuma lulusan SMP tapi kerja keras sejak muda.”

Tiba juga taksi saya di depan rumah. Setelah membayar ongkos taksi, saya masuk ke rumah dengan perasaan yang campur-aduk. Percakapan tersebut meninggalkan begitu banyak warna di dalam benak saya. Bapak Supir itu nggak tahu, bahwa dua bulan yang lalu, saya baru saja keluar dari sebuah perusahaan karena tidak kuat dengan beban kerja yang diberikan. Dalam hati, saya jadi malu sendiri. Saya nggak sehebat yang Bapak itu pikir.

Di lain pihak, percakapan singkat tersebut memotivasi saya untuk fokus pada apa yang saya kerjakan sekarang, yakni menjadi seorang pengajar dan pengusaha, meski yang saya hasilkan sekarang nilainya mungkin belum seberapa. Terima kasih Pak Supir-yang-saya-lupa-tanya-siapa-namanya, sudah berhasil kasih semangat dan inspirasi ke saya. Tiap kali saya mulai ngeluh-ngeluh dan rasanya mau nyerah, kata-kata Pak Supir itu terulang terus di telinga saya,”Kerjaan sih apa aja, yang penting halal dan terus kerja-keras, nanti pasti rejekinya nggak ke mana.”

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s