When Someone is Trying to be (Like)You

selena_gomez_clones_by_themagiciansbox-d8tb7bi

I think we are all familiar with the term copycat. According to some resources, copycat refers to someone who imitates another person, either partially or completely. He or she will create a reproduction of an act that is first introduced by other person.

Probably some of you wonder why it should be called a copy-cat. Well, I looked up some information and surprisingly, the term copycat is apparently created back in 1887 – which is more than two hundred years ago – by an American writer, Constance Cary Harrison, in her work called Bar Harbor Days. Interestingly, she decided to use the word “cat” because at that period, cat’s attitude resembled an evil behavior, as well as other negative things. However, some people also say that the root of word copycat comes from a kitten who loves to imitate its mother’s movement.

Firstly, we have to wholeheartedly admit that we are all a copycat, at some point on our life. This phase usually takes place  in our youth; a period when we are all busy trying to fitted in. We try so hard to present our coolest appearance and personality in order to be accepted by others. I remember a particular style of wristband that I loved to wear back in elementary school just because almost every girl in my class wore the same things. I find this is still understandable, because as a teenager you probably still have not found your own style, yet.

Therefore, we also have some figures that we regularly looked up to as our role-model. Taking others’ experiences and positive traits to motivate you to be a better person is so common, and very acceptable, even if you’re not a kid anymore. But, it is important to know that role-model could be two things: positive or negative. It’s so easy to spot on some young people who sadly try to imitate a bad behavior from a bad role-model, such as self-harm, smoking, and so on. With the heavy exposure of social media usage nowadays, it’s even easier to be misled by some particular figures or media.  These are all depends on the individuals’ mindset, whether they want to learn how to tackle life’s responsibilities and to follow a good example, or they think that it’s cooler to escape from the reality and to follow a bad example.

Anyway, psychologists say that people who duplicate other people’s act are usually have a poor self esteem so that they are afraid to show who they really are. They have the constant need to take a certain style from other people. Otherwise, they fear that other people will not appreciate them. Apart from feeling insecure, other reason behind the act of copying others is jealousy. They want to take other people’s success and to make it their own. And strangely, the one who has a habit to imitate other people is usually the one who claims that they are original.

So, what to do to deal with a situation in which you find somebody else try to do the same stuffs that you did? Being positive is on the number one of the list. You must have realized first that this world doesn’t consist of only you. There are million other people who might like the same books that you read, the same artists that you adore, or the same hair-style that you own. That’s why, don’t be over-fussy about this issue.

However, if it’s getting more specific and detail, it’s rational to be a little freaked out. Nobody wants other people to be their clone.

As weird as it sounds, you must take it as a compliment. You are an awesome being and sure you have already done something meaningful. You are a role-model for somebody else. What you have done has been acknowledged by others. You have inspired somebody else to imitate what you do – especially if it’s a positive act like creating an art, doing charity, or just simply being nice to other people, you must be really proud of yourself because you have successfully empowered others to do the same positive things. Instead of worrying about these copiers, you can use this opportunity to increase your productivity.

If you really want to prevent your work to be duplicated, it’s also wise to keep some precious ideas just for yourself. Let the copiers steal from other places.

In the end, I believe that the best work that you could possibly done is by just being you. You could never be somebody else, and, nobody else could ever be you, no matter how hard they try. Authenticity is one of the most important factor in creating something.

Let’s just do our own things, even more greatly, and give the copiers a decent amount of time to grow up and to find their own identity.

 

 

 

 

Inspirasi dari Supir Taksi

taxi

Siapa sangka, percakapan yang bisa memberi inspirasi dan ngena di hati kebanyakan justru terjadi di dalam taksi. Ya, saya beberapa kali terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan dengan supir taksi. Padahal, sih, naik taksinya cuma setengah jam sampai satu jam saja. Mungkin karena usia para supir taksi yang kebetulan saya tumpangi jauh lebih tua daripada saya, jadi mereka gemar membagikan pengalaman hidup mereka sendiri. Atau mungkin juga karena ngantuk kali ya, kalau cuma diem-dieman di mobil, he-he-he.

Salah satu diskusi dengan seorang supir taksi yang nggak akan mungkin saya lupakan terjadi pada awal Desember lalu. Sore hari itu, saya sendirian ingin pulang dari sebuah komplek universitas menuju rumah. Saya baru saja selesai menjajakan produk saya di acara pameran kampus tersebut. Taksi tersebut datang bertepatan ketika saya masih sibuk mengangkut properti yang saya gunakan. Kayaknya sih, si supir ini bingung melihat barang bawaan saya yang begitu banyak.

Setelah duduk di kursi penumpang, supir ini bertanya singkat,”Habis ngapain, Mbak?” Lantas saya bercerita kalau saya baru saja ikut pameran untuk menjual minuman yang saya olah sendiri. Supir ini terlihat kaget luar biasa. “Ah masa, Mbak? Kok bisa?” Menurutnya, tidak mungkin seorang wanita muda seperti saya mau repot-repot berjualan sendirian. Beliau tambah kaget lagi ketika tahu saya baru saja lulus kuliah. Sampai di situ, saya masih nggak paham kenapa supir ini terlihat heran sekali.

Baru deh, setelah itu, Beliau bercerita. Si Bapak yang mungkin berusia sekitar awal 50-an ini bercerita tentang keponakannya yang berhasil mendapatkan gelar Sarjana dari universitas ternama di Bandung. Sayang, nasibnya sekarang bisa dibilang kurang berhasil. Si keponakan mendapatkan gelar dari jurusan Desain, tetapi rupanya dia cukup ribet ketika melamar pekerjaan. Ia punya ekspektasi yang sangat tinggi akan pekerjaan pertamanya, apalagi setelah mendapatkan embel-embel gelar di belakang namanya. Selain itu, dia juga malas untuk memulai karier dari nol. “Maunya, yang langsung enak, langsung jadi boss”, ujar Pak Supir ini. “Tuh, sekarang dia cuma jadi tukang sablon, sama levelnya kayak orang yang nggak sekolah, kasihan anak istrinya”, tambahnya lagi.

Sambil terus melajukan mobil, Pak Supir terus bercerita dan juga melontarkan pertanyaan kepada saya. Saya bilang saya sudah terbiasa berjualan sejak masih kuliah. Kebetulan, saya mengambil jurusan bisnis, dan kampus saya sangat mendorong mahasiswanya untuk menciptakan bisnis sendiri. Selain usaha ini pun, saya ada pekerjaan lain, yaitu mengajar musik untuk anak-anak.

Kemudian, komentar Bapak ini adalah,”Saya salut banget sama orang-orang kaya Mbak. Biar udah sarjana, nggak sombong, mau kerja dari yang kecil-kecil. Mau repot, mau capek.” Sebelum saya sempat merespon, Bapak ini curhat lagi tentang kekecewaannya terhadap generasi muda jaman sekarang. “Ya, anak sekarang kan maunya apa-apa yang enak ya, Mbak. Yang cewek sukanya ke mal, belanja, makan enak, minta cowoknya yang bayarin”, tambahnya lagi.

Saya pikir sebentar lagi percakapan ini akan usai soalnya taksi udah deket sampai rumah saya. Tetapi, lagi-lagi Pak Supir mengagetkan saya dengan ceritanya yang lain. Ternyata, Bapak ini adalah seorang manajer front desk di sebuah hotel di Jakarta selama 10 tahun sebelum memutuskan untuk menjadi supir taksi. Beliau mencintai pekerjaannya yang terdahulu, hanya saja gaji yang ia dapatkan habis lantaran biaya transportasi yang besar karena jarak dari rumah ke tempat kerja yang sangat jauh. Belum lagi, harus melawan kemacetan dan padatnya lalu-lintas di ibukota setiap harinya dengan motor.

Yang paling menarik adalah, Beliau hanyalah seorang lulusan SMA namun bisa mengepalai beberapa orang di hotel tersebut, termasuk para Sarjana sekali pun. Beliau berulangkali menegaskan bahwa jenjang pendidikan dan gelar bukanlah faktor utama yang menentukan keberhasilan seseorang. Menurut Beliau, kerja keras dan kemauan untuk belajar adalah kunci utamanya. “Percuma kalau Sarjana tapi males, lama-lama bisa kalah sama yang cuma lulusan SMP tapi kerja keras sejak muda.”

Tiba juga taksi saya di depan rumah. Setelah membayar ongkos taksi, saya masuk ke rumah dengan perasaan yang campur-aduk. Percakapan tersebut meninggalkan begitu banyak warna di dalam benak saya. Bapak Supir itu nggak tahu, bahwa dua bulan yang lalu, saya baru saja keluar dari sebuah perusahaan karena tidak kuat dengan beban kerja yang diberikan. Dalam hati, saya jadi malu sendiri. Saya nggak sehebat yang Bapak itu pikir.

Di lain pihak, percakapan singkat tersebut memotivasi saya untuk fokus pada apa yang saya kerjakan sekarang, yakni menjadi seorang pengajar dan pengusaha, meski yang saya hasilkan sekarang nilainya mungkin belum seberapa. Terima kasih Pak Supir-yang-saya-lupa-tanya-siapa-namanya, sudah berhasil kasih semangat dan inspirasi ke saya. Tiap kali saya mulai ngeluh-ngeluh dan rasanya mau nyerah, kata-kata Pak Supir itu terulang terus di telinga saya,”Kerjaan sih apa aja, yang penting halal dan terus kerja-keras, nanti pasti rejekinya nggak ke mana.”