Indonesia, di Mata Saya dan Dia

40jkttrip (70)
Jakarta dari puncak Monumen Nasional

Tom pertama kali datang ke Indonesia pertengahan Agustus 2015. Ini merupakan pengalaman pertama buat dia traveling ke luar negeri sendirian, pengalaman pertamanya keluar Eropa, sekaligus pengalaman pertamanya ke Asia. Jadi, nggak cuma buat saya, buat dia pun pengalamannya nggak terlupakan banget saking banyaknya hal baru yang dia temuin. Ini saya cerita beberapa contohnya, ya.

40jkttrip (38)

Tentang kondisi traffic di jalanan. Dari pertama kali dia naik mobil keluar dari komplek bandara, matanya nggak lepas ngeliatin jalanan (iya, bukan ngeliatin saya). Dia kayak bingung gitu karena selain jumlah kendaraan yang banyak banget lalu-lalang di jalan, pengendaranya juga nggak semuanya tertib. Ada motor yang tiba-tiba nyelip gitu aja, angkot yang berhenti mendadak, mobil yang belok tanpa ngasih lampu sen, dan sebagainya, Dia curious banget gimana sebenarnya peraturan di Indonesia tentang berkendara. Soalnya di tempat dia tinggal, volume kendaraan benar-benar sedikit. Bahkan kalau malam hari, jumlah mobil yang lewat di jalan raya itu bisa dihitung pakai jari. Motor? Nyaris nggak ada. Apalagi kalau musim dingin, nggak ada motor yang nampak di jalan raya. Lucu gitu jadinya ngeliat muka dia yang nervous gitu liat jalanan. Terus dia berulang-ulang bilang,”I think I am not able to drive here, somebody will probably kill me or I might kill somebody.”

Tentang orang Indonesia yang ramah. First impression dia terhadap orang Indonesia yaitu friendly. Jadi ceritanya waktu dia baru mendarat, pas lagi nyari saya, ada segerombolan ABG cewek yang ngedeketin dia, kenalan, dan minta selfie gitu. Dasar Tom orangnya baik nyaris menuju innocent, dia iya-in aja dan selain itu dia sempet disapa sama beberapa staf bandara juga. Jadi sejak itulah dia pikir orang Indonesia ramah-ramah ke foreigner. Dan itu beda banget sama di negaranya, di mana orang lokalnya pun lebih sering jutek even ke orang lokal lainnya.

Tentang jenis pekerjaan dan service yang excellent di Indonesia. Mungkin karena jumlah penduduk yang banyak, terutama di usia produktif ya, di Indonesia kita bisa nemuin banyak banget jenis lapangan pekerjaan yang nggak bisa atau susah kita temuin di Eropa. Contohnya, pembantu rumah tangga, mas-mas di supermarket yang masukin barang belanjaan ke kantong plastik, mas-mas di supermarket yang nimbangin buah, tukang parkir, tukang jualan macem-macem di bus, mas-mas yang bukain pintu mobil di lobby mall, penjaga pintu tol, dan lain-lain. Yang paling lucu sih yang bukain pintu mobil kita di lobby mall. Tom kayak,”What is he doing??” dengan muka wondering gitu. And setelah dijelasin, dia kayak,”He is paid to do that??” Ya gitu. Soalnya juga di negaranya jumlah penduduknya sedikit banget kalau dibanding Indonesia. Jadi sebisa mungkin semua perusahaan hanya menggunakan jumlah minimum tenaga kerja. Dan tipe pekerjaannya juga banyak yang sudah dikerjakan mesin atau self-service.

Terus pernah sekali dia amazed banget waktu masuk toilet di tempat umum, lalu disapa gitu sama penjaganya, something like “Welcome to the toilet, Sir.” Terus dia keluar-keluar WC, excited banget, terus bilang,” Oh my god there is no such thing like that in Czech, here everyone is so happy and content with what they’re doing, even if it’s just cleaning the toilet.” Tom bilang di negaranya hampir semua orang yang kerjaannya di level seperti itu nggak akan mau kasih effort lebih buat bikin customer seneng; mereka literally just do what they should do. Kita nggak bisa expect untuk disapa, dilayani dengan senyum, dan sebagainya. Jadi bangga-bangga gimana gitu. Dipikir-pikir iya juga sih. Jadi terharu.

Tentang Jakarta: modern tetapi uncivilized at the same time. Kesimpulan itu didapat setelah dia lihat mal-mal yang begitu mewahnya, yang isinya pun barang impor dengan harga selangit, kendaraan-kendaraan bagus yang ada di jalan, rumah-rumah yang besar dan sebagainya, sekaligus mengalami sendiri gimana buruknya kondisi traffic di jalan, tata kota yang berantakan, polusi, dan sampah yang sering ganggu di jalan. Dia juga nggak terbiasa nggak bisa minum air langsung dari tap. Semoga Jakarta (dan Indonesia secara umum) bisa jadi jauh lebih baik secepatnya ya.

Tentang keluarga Indonesia yang hangat dan banyak anggotanya.  Mungkin untuk keluarga muda sekarang sudah mulai berubah, tetapi rata-rata keluarga generasi dulu kan anaknya banyak-banyak ya. Jarang yang cuma 2. Bisa di atas 5 sampai kisaran 10. Alhasil, sepupu saya ada banyak banget. Mungkin kalau ditotal ada 20-an. Sedangkan Tom keluarganya kecil sekali. Dia bahkan nggak punya sepupu sama sekali. Dan keluarga besar saya masih sering ngumpul-ngumpul paling nggak sebulan sekali gitu. Dia seneng bisa lihat keluarga yang besar tetapi dekat satu sama lain dan bisa saling ngobrol gitu.

 Tentang weather yang gitu-gitu aja. Secara Indonesia negara tropis, jadi ya udah, udah nggak bisa diapa-apain.

Tentang susahnya nyari alcoholic drinks. Ha-ha.

In the end nggak semuanya jelek loh, ya!

Kalau dari saya sih, yang paling saya suka dari Indonesia tuh keberagamannya. Orangnya macem-macem banget. Nggak cuma dari warna kulit atau fisiknya aja, tetapi dari budayanya, agamanya, mata pencahariannya, cara pikirnya, dan lain-lain. Bisa dengan mudah nemuin orang yang hidupnya kaya sekali secara materi sampai orang yang kerja hanya untuk ngisi perut hari itu. Jadi kita bisa belajar banyak tentang kehidupan dengan hanya melihat lingkungan sehari-hari gitu.

Kalau yang paling saya nggak tahan dari Indonesia yaitu mental korup-nya sama close-minded-nya. Nggak usah dijelasin kali, ya, entar sakit hati sendiri.

Kalau kalian, apa nih pendapat yang paling ngena tentang Indonesia?

Advertisements

2 thoughts on “Indonesia, di Mata Saya dan Dia

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s