5 Beautiful Life Reminders from 5 Awesome Books

“One day spent with someone you love can change everything."
“One day spent with someone you love can change everything.”

1. Tentang betapa terbatasnya waktu yang kita miliki dan pentingnya menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita sayangi. Kurang-lebih itu deh inti yang ingin disampaikan Mitch Albom dalam karyanya yang berjudul For One More Day. Charles Benetto, lahir dan tumbuh besar di keluarga yang tidak utuh, sehingga mengharuskan ia untuk selalu memilih antara ibu atau ayahnya. Ketika mencoba bunuh diri karena depresi, ia mengalami rentetan flashback dan seolah-olah bertemu kembali dengan ibunya yang sudah tiada. Banyak banget adegan menyentuh yang menyadarkan pembacanya kalau kasih sayang orangtua bener-bener nggak ada batasnya. Malah, kita sebagai anak, yang sering take it for granted dan kurang berterimakasih gitu. Abis baca buku ini dijamin punya perasaan yang sama dengan tokoh utamanya: pengen jadi pribadi yang lebih baik dan menjalin  hubungan yang lebih baik lagi dengan orang-orang terdekat.

''The world is not a wish-granting factory.''
”The world is not a wish-granting factory.”

2. Pengingat bahwa hidup itu realistis – nggak semua yang kita mau bisa jadi kenyataan. Kisah tentang Hazel Grace, cewek remaja yang didiagnosa sakit kanker dan menjalani hidup yang nggak jauh-jauh dari support group, baca buku, dan mengkhawatirkan orangtuanya jika suatu saat sesuatu terjadi kepadanya. The Fault in Our Stars karya John Green ini nggak cuma bercerita soal itu, tetapi banyak pesan penting lainnya yang ingin dia masukkan ke buku ini, terutama melalui love story antara Hazel dengan Augustus Waters, penderita kanker lainnya yang Hazel temui di support group. Meski mereka udah ngabisin waktu bareng, punya banyak common interests, dan Augustus sampe merelakan wish-nya dipakai Hazel untuk ketemu author favoritnya di negara lain, ujung-ujungnya mereka nggak bisa bareng. FYI, buku ini nggak melulu soal kanker kok, kita bisa belajar banyak soal persahabatan, keberanian, pengorbanan, dan bagaimana caranya menghargai hidup lewat metafora-metafora yang indah.

"We all want everything to be okay. We don't even wish so much for fantastic or marvelous or outstanding. We will happily settle for okay, because most of the time, okay is enough."
“We all want everything to be okay. We don’t even wish so much for fantastic or marvelous or outstanding. We will happily settle for okay, because most of the time, okay is enough.”

3. Tentang pentingnya bersyukur dalam hidup. Ide cerita yang nggak biasa bisa kita temuin di Every Day karya David Levithan. Tokoh utamanya, namanya A. Iya, A, doang. Si A ini setiap hari lahir di tubuh orang yang berbeda-beda. Dia nggak punya identitas, nggak punya keluarga, nggak punya teman-teman yang pasti setiap harinya. Keadaan makin rumit ketika suatu hari dia ketemu cewek yang dia suka. Lewat perjalanan A, kita bisa ngeliat kalau kehidupan manusia banyak banget ragamnya. Dan nggak semuanya enak. Nggak semua orang hidupnya berkecukupan. Nggak semua orangtua sayang dan bisa ngurus anaknya dengan baik. Nggak semua orang yang pacaran sebetulnya seneng dan setia sama pacarnya. Banyak situasi dalam hidup yang bikin orang depresi.

Sedih banget ya,  nih apa katanya soal cewek yang dia suka: “I will never have a photograph of her to carry around in my pocket. I will never have a letter in her handwriting, or a scrap-book of everything we’ve done. I will never share an apartment with her in the city. I will never know if we are listening to the same song at the same time. We will not grow old together. I will not be the person she calls when she’s in trouble. She will not be the person I call when I have stories to tell. I will never be able to keep anything she’s given to me.”  

Tapi bukunya nggak sesedih ini kok, banyak humornya dan kata-kata yang bikin kita mikir.

“sometimes you don't need a goal in life, you don't need to know the big picture. you just need to know what you're going to do next!”
“Sometimes you don’t need a goal in life, you don’t need to know the big picture. you just need to know what you’re going to do next!”

4. Hidup kadang perlu dibawa santai. The Undomestic Goddess dari Sophie Kinsella menceritakan tentang Samantha Sweeting yang gila kerja sebagai pengacara. Ritme hidup yang serba cepat, tekanan yang tinggi dari kantor, dan kesibukan yang gila-gilaan sampai ia hampir nggak sempat merayakan ulangtahunnya sendiri. Sampai suatu saat, dia melakukan kesalahan fatal dan dia pun langsung dipecat dari perusahaan. Stres, galau, dan nggak tau mau ngapain, Samantha kabur ke desa kecil dan nggak sengaja nerima pekerjaan jadi pembantu rumah tangga. Buku ini ringan, lucu, gampang dimengerti, dan banyak pesan moralnya. Kadang terlalu banyak menge-set target, memaksa diri untuk bekerja keras, dan berpikir terlalu jauh ke depan nggak bagus juga. Kinsella mengingatkan kita untuk enjoy the little things in life.

5. Going Home karya Danielle Steel menyampaikan satu pesan: ”Every woman falls in love with a bastard at least once in her life”.  Period. Kata siapa buku yang bagus selalu punya karakter yang like-able? Di buku ini, tokoh utamanya, Gillian, tidak disukai oleh pembaca. Bisa dibilang dia bukan tipe cewek yang bisa jadi teladan deh. Karena dia gampang banget dimainin sama cowok, mau aja diperlakukan seenaknya, dan nggak bisa bersikap bijak dalam menentukan pilihan. Siap-siap geregetan waktu baca buku ini!

What’s on your list? 

 

Advertisements

2 thoughts on “5 Beautiful Life Reminders from 5 Awesome Books

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s