Perbaiki Komunikasi dengan Bersikap Asertif

speakup

Pernah dengar nggak kata asertif?

Asertif tidak sama dengan sekedar bicara blak-blakan. Bukan berarti berprilaku agresif juga terhadap orang lain. Berdasarkan Randy Paterson, seorang psikolog klinis dan penulis buku The Assertiveness Workbook: How to Express Your Ideas and Stand Up for Yourself at Work and in Relationshipsberprilaku asertif berarti bisa mengekspresikan apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan kepada orang lain secara jelas, kalem, dan juga langsung ke orang yang bersangkutan. Di saat yang bersamaan, kita juga terbuka untuk mendengar apa yang menjadi kebutuhan orang lain.

Banyak kejadian di dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita jadi kesel dan uring-uringan karena kita sendiri nggak mampu berkomunikasi secara asertif. Misalnya, keberatan karena dikasih beban pekerjaan yang terlalu banyak dan nggak sebanding dengan anggota kelompok yang lain. Kesel, tapi diam aja, cuma ngomel-ngomel di dalam hati. Yah, jelas aja yang lain nggak ngerti apa yang kamu pikirkan.

Contoh lain, kamu sebetulnya nggak sreg dengan ide teman kamu, dan sebenernya kamu punya ide lain yang lebih oke. Tapi, kamu nggak menyampaikan ide kamu, even untuk sekedar didiskusikan. Kalau ujung-ujungnya ide kamu tidak dipakai, tau dong salah siapa? Contoh kecil lagi, ketika boss kamu salah perhitungan waktu memberikan gaji, ketika ada ibu-ibu menyerobot antrean, atau ketika pacar kamu merokok di sebelah kamu dan kamu keberatan sama asap rokoknya, tetapi kamu nggak bilang apa-apa.

Buat sebagian orang, berprilaku asertif itu susah banget. Karena emang sih, lebih gampang bersikap pasif, yang ikut ke mana orang-orang lain berjalan, ikut suara terbanyak, ikut teman sekelompok, dan ikut-ikut yang lainnya.

Saya belum lama ngalamin satu kejadian. Ada satu orang di kelompok kerja yang nge-diemin saya (silent treatment – bahasa keren-nya) selama berbulan-bulan. Attitude-nya terhadap pekerjaan juga menjadi super negatif. Waktu saya mencoba ngomongin langsung ke orangnya, kenapa dia ngediemin saya, dia langsung bilang dia pikir saya bisa ngerti sendiri kenapa dia kesel sama saya. Waduh! Emangnya saya bisa baca pikiran? Gitu, deh, salah satu contoh orang yang masih jauh dari namanya asertif. Mendiamkan orang lain, nggak mau ngomongin kenapa-nya, memendam perasaan sendiri, tapi tau-tau meledak sendirian waktu udah kebanyakan pikiran.

Makanya, menjadi asertif juga butuh yang namanya latihan. Dari yang kecil-kecil. Berani bilang enggak terhadap sesuatu yang dirasa nggak nyaman buat kita. Jangan terlalu nggak-enakan sama orang kalau memang hak kamu dilanggar. Berani mengemukakan pendapat. Belajar menyampaikan secara baik-baik kalau kamu merasa nggak nyaman dengan perlakuan orang lain dan mencoba menyelesaikannya bersama-sama.

Dengan berprilaku asertif itu kita belajar menghargai diri sendiri dan orang lain. Komunikasi lebih lancar, lebih bijak karena kita bisa memahami sudut pandang orang lain, lebih percaya diri, dan yang paling penting, jauh dari yang namanya stres!

Masih bingung, apakah kamu termasuk orang yang pasif, asertif, atau agresif? Bisa coba ambil kuisnya di sini

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s