Belajar dari Museum

Dari kecil, saya suka sejarah. Bukan hanya ketika belajar di sekolah, tapi saya juga suka membaca biografi-biografi tokoh dunia dan sejenisnya. Makanya, saya juga suka mengunjungi museum. Ketika berkesempatan traveling ke Eropa, saya mengunjungi beberapa museum yang lumayan menarik. Museum di sana sangat worthed untuk dikunjungi, karena nyaman, bersih, tenang, dilengkapi dengan petunjuk arah yang jelas, koleksinya juga lengkap dan biasanya sih, bisa makan waktu seharian kalau mau melihat semuanya. Beberapa museum juga didukung dengan kecanggihan teknologi, jadi pengunjung bisa mendapatkan headset untuk mendengar penjelasan sesuai bahasa yang diinginkan.

Museum yang pertama saya kunjungi bernama Musee d’Histoire de Berne di Bern, Switzerland. Selain memiliki koleksi artefak sejarah dari Asia, Egypt,  dan kota Bern-nya sendiri, ada area khusus bernama Einstein Museum di dalam bangunan yang sama. Di museum ini, bahkan ada arca-arca Buddha dan juga wayang kulit dari Indonesia, loh!

desainnya seperti kastil
desainnya seperti kastil

Bisa dibilang Einstein merupakan salah satu manusia genius di abad ini. Di internet, wajah Beliau ada di mana-mana dan juga sama halnya dengan quotes-quotes dari Beliau semasa hidup. Tapi, nyatanya, nggak banyak yang saya ketahui selain fakta bahwa ia adalah ilmuwan cerdas penemu teori relativitas. Nah, kenapa museumnya ada di Bern? Ternyata, Einstein pernah tinggal di kota ini sewaktu menciptakan teori relativitas. Museum ini membahas secara lengkap perjalanan hidup Einstein, bahkan sampai ke lembar rapornya waktu sekolah dulu!

Dari kunjungan ini, saya baru ngerti kalau Einstein merupakan seorang keturunan Yahudi dan itulah kenapa dia memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat di masa Hitler mulai memusnahkan kaum Yahudi di Eropa. Einstein juga pernah dituduh sebagai dalang dari tragedi Hiroshima—Nagasaki oleh Times Magazine karena formula E=MC2 disebut-sebut merupakan formula untuk membuat bom atom. Kata-kata terakhirnya sebelum meninggal nggak bisa dimengerti dengan jelas oleh suster jaga di Princeton, karena ia bicara dalam bahasa Jerman, “his mother tongue in which he felt most at home throughout his life”.

Museum berikutnya ada di Berlin, Jerman. Namanya Memorial to the Murdered Jews of Europe. Lokasinya dekat sekali dengan Brandenburg Gate yang terkenal itu, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Bentuknya unik banget karena underground gitu, jadi nggak kelihatan dari luar. Dari luar yang kelihatan adalah deretan beton-beton persegi yang dibuat di atas tanah yang miring. Arsiteknya sengaja membuat konsep kayak gitu untuk menciptakan atmosfer yang membingungkan, walaupun ada juga pendapat yang bilang kalau desainnya mirip dengan komplek pemakaman.

Denkmal fur die ermordeten Juden Europas (dalam bahasa Jerman)
Denkmal fur die ermordeten Juden Europas (dalam bahasa Jerman)

Waktu masuk ke dalamnya, saya langsung jadi sedih, banget. Ada penjelasan secara detail tentang sejarah awal bagaimana kaum Yahudi di Eropa mulai ditindas dan pada akhirnya ada pemusnahan secara massal. Di periode itu, kaum Yahudi dari seantereo Eropa, mulai dari Polandia, Hungaria, Jerman, dsb, dicari, ditangkap, dan dikirim ke kamp konsentrasi di berbagai daerah untuk dieksploitasi secara gila-gilaan. Mereka bener-bener nggak diperlakukan secara layak, banyak yang meninggal karena kelaparan, dan ada juga yang memang sengaja dibunuh dengan gas beracun.

Di museum itu, ada foto-foto wajah mereka yang menjadi korban genocide ini. Ada ruangan yang menayangkan nama mereka di layar secara satu per satu. Ada juga foto-foto dari kamp konsentrasi. Kita bisa lihat juga silsilah atau cerita background keluarga dari para korban.

wjaah para korban

Dan yang paling bikin merinding adalah catatan harian dari mereka sendiri tentang betapa kejamnya kondisi kala itu, dan kebanyakan menggambarkan perasaan mereka yang dipenuhi ketakutan dan nggak bisa berbuat apa-apa.

Pokoknya, museum-museum itu bikin lupa waktu. Apalagi, waktu itu, di luar dingin banget, jadi makin betah deh karena hangat di dalam museum.

Advertisements

2 thoughts on “Belajar dari Museum

  1. Ah i love museum, too! Museum di Eropa emang keren banget, totalitas gitu isinya. Gak seperti disini ☺
    Semoga bisa segera nyusul ke Eropa hihi.
    Btw salam kenal ya! 😀

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s