“Kamu Orang Apa?”

Jay Graham Graham Photgraphy 6 Bridge Avenue, #8 San Anselmo, Ca 94960 415-459-6313
Jay Graham
Graham Photgraphy
6 Bridge Avenue, #8
San Anselmo, Ca 94960
415-459-6313

Buat saya, tinggal di Indonesia itu bener-bener pengalaman yang unik banget. Banyak hal yang cuma bisa kita dapetin di Indonesia dibandingkan di negara lain. Kita semua tahu Indonesia itu negara yang diverse banget, dari orang-orangnya, makanannya, budayanya, objek wisatanya, dan lain-lain. Mungkin karena kita terbiasa dengan kondisi yang kayak gini, kita jadi nggak nganggep hal ini sebagai sesuatu yang spesial, tetapi jarang loh, negara yang diverse kayak Indonesia. Begitu nyobain jalan-jalan atau tinggal di negara lain, biasanya baru berasa, nih, uniknya negara sendiri.

Salah satu hal simple aja yang bikin beda, adalah, masalah panggilan. Dari saya kecil, saya selalu dibikin bingung dengan beragamnya panggilan yang bisa digunakan untuk me-refer ke seseorang. Sampai saya umur belasan, saya nggak gitu nangkep sebenernya, kenapa ada orang-orang yang dipanggil begini dan ada yang dipanggil dengan istilah lain.

Baru, deh, ketika udah lebih dewasa saya baru nangkep kenapa untuk urusan panggilan aja bisa berbeda-beda. Lucunya, karakter wajah dan warna kulit saya for some people is not Chinese enough, sehingga sering dikira berasal dari daerah lain. Seringkali juga ketika masuk ke lingkungan yang baru, saya ditanya ,“Karina, kamu orang apa sih?” Pertanyaan ini juga nggak bermaksud menyinggung atau mempermasalahkan etnisitas saya, tetapi nggak tau kenapa, masih lucu aja kalau dapat pertanyaan seperti ini. Saya sendiri suka bingung jawabnya, kalau saya jawab dengan nama kota tempat saya tinggal, biasanya akan ditanya lagi,“Emangnya asli orang sana? Kalau orangtua-nya darimana?” Waduh, makin bingung, karena kebetulan etnis Tionghoa yang berasal dari Tangerang (lebih dikenal dengan nama Cina Benteng) memang sudah lama sekali nge-blend dengan masyarakat Tangerang asli-nya.

Masalah panggilan ini juga a little bit tricky in social setting. Saat saya masuk kuliah, orang-orangnya jauh lebih diverse dibandingkan waktu di SMA. Jadi, saya harus mikir dulu sebelum memanggil orang yang lebih tua, panggilan apa yang tepat nih, ya. Dasar saya memang paling nggak bisa ngebeda-bedain orang dari apa yang kelihatan secara fisik, biasanya sih I go for “Kak”. Dan menurut saya idealnya emang begitu, karena dibeda-bedain emang nggak pernah enak, kalau ada opsi yang paling general, I go for it!

Rasa-rasanya, pertanyaan “Kamu orang apa?” masih cukup sering dilontarkan orang-orang sekitar, termasuk keluarga saya sendiri terhadap teman-teman saya. Saya sih berharapnya, pertanyaan kayak gini bisa pelan-pelan berkurang frekuensinya seiring berjalannya waktu. Sebetulnya kalau hanya ingin tahu dan setelahnya “ya sudah” sih gapapa. Tetapi kalau kebanyakan denger pertanyaan model begini dari kecil, bisa memunculkan perasaan kalau identitas kita tuh berbeda dengan masyarakat yang lain. Padahal, kan, sama aja, lahir dan besar di Indonesia.

Sebelumnya, mohon pengertiannya, post ini nggak bermaksud menyinggung etnis apapun.

And again, diversity is what makes our country beautiful.

Advertisements

5 thoughts on ““Kamu Orang Apa?”

  1. Kadang emang suka bingung buat jawab pertanyaan kaya gini haha. Kalo mau dijawab lengkap banyak banget campurannya 😆😆

      1. Iyaaa bener banget :))
        Emm sunda, batak, tapi ada chinnese juga dikit. Gak murni lagi jadinya, banyak campurannya hihi

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s