Kepala Dua

wendy-darling

Oktober 2015. Tiba-tiba udah Oktober 2015.  Rasanya saya masih sering berfikir sekarang masih tahun 2010 atau 2008. Tiba-tiba saya udah menuju 23 tahun. Salah satu teman saya pernah bilang,“Anak yang sekarang masuk SMP, itu kelahiran tahun 2002, loh. Gila, tua banget ya kita!”

You know you’re getting older when you’re not excited anymore about birthday(s), haha. 

Menjadi lebih dewasa emang nggak selamanya menyenangkan. Tetapi menjadi lebih tua dan lebih tua setiap tahunnya membuat saya sering melihat kembali ke tahun-tahun sebelumnya; melihat apa yang berubah, melihat apa aja yang udah terjadi, yang gagal dan kurang berhasil, dan pastinya terus belajar supaya menjadi pribadi yang lebih baik. Dan, buat saya, menengok ke belakang itu perlu dan somehow, menyenangkan juga, melihat bagaimana kita sebagai manusia terus berkembang melalui setiap fase hidup. Sejak menggeluti rutinitas di bidang pendidikan, setiap harinya saya bertemu orang dari berbagai macam usia, mulai dari anak TK, anak SD, remaja, orangtua muda, sampai Oma-Oma yang mengantar cucunya. Ketemu dengan orang dari berbagai macam usia lebih-lebih lagi membuat saya mikir, udah ngapain aja selama 20-an tahun ini.

10 years behind, saya ada di SMP. Setiap hari isinya cuma sekolah, les musik, dan bersosialisasi (baca: gaul sama teman-teman). Ini nih fase dengan jumlah selfie terbanyak, fase dengan frekuensi hang-out terbanyak, dan fase yang lagi labil-labilnya, sampai bikin saya malu buat menengok ke belakang. Waktu SMP sih rasa-rasanya teman dan lingkaran pergaulan itu nomor satu. Nggak pengen banget left behind sendirian kalau ada acara-acara. Rasanya penting banget untuk dikenal banyak orang, or at least, feels belong to some group. Nonton, photo box, datengin acara cup antarsekolah, telfonan sama temen, and so on.

Ini juga fase yang super labil, too excited to be more grown-up and starting to date some boys without exactly knowing what I’m drowning myself into, without exactly knowing what’s good and bad for myself. Yang namanya pacaran isinya cuma drama, deg-degan gak jelas karena nggak pernah cerita ke orangtua, stress sendiri mikirin kalau lagi berantem, dan kualitas pacarannya juga super nggak jelas, kebanyakan cuma SMSan nonstop untuk ngomongin hal-hal cheesy. Nggak jelas mulainya, nggak jelas juga putusnya.

Masuk di SMA, mulai banyak yang berubah. Frekuensi hangout pelan-pelan mulai nggak seintens di SMP. Saya juga sudah nggak terlalu peduli sama lingkaran pergaulan, makin lama ngerasa makin susah cocok juga sama teman-teman di sekolah. Setiap orang makin kelihatan personality-nya, and it turns out not everyone is get along with mine, and it’s okay not to be align with everyone. Jadi, hang out seperlunya saja sama teman-teman yang emang cocok sama kita, dari segi apa yang diomongin, cara pikir, interests, dan sebagainya. Ada sih high school drama sedikit-sedikit yang dibumbui oleh social media war, kalau nggak, bukan SMA namanya. Sisa waktu dipakai untuk belajar (thanks to the school of choice karena ulangannya nggak berhenti-berhenti), kursus musik (tetep), dan ikut kegiatan-kegiatan yang saya suka; voli, orkestra, dan jurnalistik. Highlight of these years mungkin attending acara sweet 17th teman-teman. Secara personal, saya menjadi lebih kenal diri saya sendiri, misalnya bidang ilmu yang saya suka dan yang saya tidak suka. Masuk-lah ke IPS, karena struggling dengan angka-angka terutama pelajaran Kimia selama 2 tahun, nggak kedengeran menyenangkan buat saya. Turns out, itu pilihan yang tepat karena kuliah saya dikit banget itung-itungannya.

Gaya pacaran juga lebih berkembang (ceilah). Going on dates really means going on a date, nonton, makan, jalan-jalan, dan sebagainya. Yang diomongin juga lebih penting, termasuk juga apa yang diberantemin. Banyak teman saya yang pasangannya sampai sekarang masih sama dari pacar waktu SMA. Mungkin saya belum ketemu jodoh yang pas, karena setelah dijalani lebih dari 4 tahun, ujung-ujungnya putus karena alasan paling klise sejagad raya: pasangan selingkuh. Tetapi, lagi-lagi, every experience brings something to learn. Setelah dipikir-pikir, pacar saya waktu itu, di balik kasus selingkuh yang super hits, juga menunjukkan tanda-tanda emotionally abusive, bisa dibilang. Ya sudah, dunia serasa hancur, tapi cuma beberapa minggu kok, habis itu, hidup jalan lagi seperti biasa, masih ada teman-teman, keluarga, dan rutinitas yang saya sayangi.

Setelah lewat segala macam ujian di sekolah, ditutup dengan acara prom night (super kangen SMA), saya masuk dunia perkuliahan per pertengahan 2011. Karena kuliah di kota yang sama, nggak terlalu banyak perbedaan ya kalau dibandingkan sama teman-teman yang pindah kota dan harus ngekost untuk kuliah. Yang pasti, kuliah sama sekali nggak seru kalau dibandingkan SMA. Ibaratnya, kalau ada kesempatan untuk ngulang masa lalu, saya pasti pilih SMA dibandingkan kuliah. Awalnya, saya juga sempet sedih karena teman-teman dekat saya dari SMA kebanyakan kuliah di luar negeri dan luar kota, dan tidak ada teman dekat yang masuk di universitas yang saya pilih.

Ada banyak banget mahasiswa di satu angkatan perkuliahan, dan semuanya datang dari background yang berbeda-beda. Udah gitu, teman-teman sekelas di universitas saya mutlak sama dari semester 4 sampai lulus, which means, nggak banyak waktu untuk bisa kenalan dengan anak dari kelas lain. Ikut kepanitiaan pun cuma awal-awal doang karena peer pressure (ha-ha), sisanya saya cuma ikut kegiatan sesekali yang saya suka. Bisa dibilang juga universitas di mana saya kuliah, mahasiswanya jauh lebih individualis dibandingkan di tempat lain (ini murni opini saya sih).

Ada enaknya, yaitu nggak ada yang peduli tentang eksistensi saya, dan anak-anaknya pun tidak terlalu suka membicarakan mahasiswa lain (kecuali kamu super nyebelin sehingga menjadi public enemy, atau kamu super kece sehingga menjadi anak gaul yang dikenal seisi kampus). Jadi, mau berpenampilan lusuh atau badai, mau bawa mobil atau motor, mau IPK nyaris 4 atau ngulang-ngulang kelas di semester pendek, nggak gitu ada pengaruhnya, kamu nggak bakal diomongin sampe gimana banget. Tapi, nggak enaknya adalah, susah mencari temen yang benar-benar temen (at least buat saya). Saat saya dekat sama teman, itu cuma karena harus ngumpul bareng karena asas pengerjaan tugas. Begitu tugas beres, komunikasi antar kami juga beres. Ada sih temen deket dari kuliah, tapi cuma hitungan jari . Rutinitas kampus dipenuhi dengan belajar kalau mau ujian, ngerjain tugas, ngumpul buat bahas tugas atau belajar bareng, presentasi, dan ujung-ujungnya, skripsi. Aktivitas di kampus padat banget, jadi setiap ada waktu kosong, pengennya dipakai buat santai-santai sendiri atau buat orang-orang terdekat.

Fase yang sekarang saya jalani adalah fase setelah-lulus-kuliah. Fase paling nggak terprediksi dan kalau diceritakan bisa jadi panjang banget, jadi saya harus tulis di post berikutnya.

Advertisements

Leave Your Thoughts Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s