Tersesat di Social Media

Quotes-A-Day-Social-Media-Quote

Kadang saya bersyukur dengan adanya beragam social media yang memudahkan penggunanya buat mem-publish apapun dan men-share apapun, karena banyak info-info menarik yang bisa didapetin dari sana. Tapi, kadang serem juga, karena saking gampangnya, kita kadang lupa apa aja yang wajar dan tidak wajar kita share ke dunia maya. Kita kadang enggak fully aware kalau apa yang kita tulis di Internet akan terus selamanya ada di sana dan bisa berakibat ke diri kita sendiri untuk jangka panjangnya.

Saya juga lumayan bersyukur karena Facebook, Path, dan teman-temannya itu nge-trend di saat saya udah lumayan berumur. Nggak kebayang, gimana rasanya jadi anak jaman sekarang, yang masih kelas 4 SD tetapi udah aktif banget di social media. Bukan cuma soal potensi kejahatan secara cyber, tapi juga ngaruh ke perkembangan diri kita sendiri, Bayangin, waktu umur 17 aja, saya masih bisa-bisanya bikin status bernada labil dan galau dan nggak layak buat konsumsi publik. Gimana kalau saya punya Facebook dari umur 9 tahun?

Ini nih sedikit guidelines yang bisa menjadi reminder kita masing-masing sebelum memutuskan untuk mem-post konten ke social media:

  1. Keep your personal life private

Nah, nomor satu aja udah susah banget nih , dan balik lagi ini pilihan setiap orang sih. Sekarang gampang banget ngepo-in kehidupan pribadi orang lain lewat social media, bahkan untuk orang yang kita nggak kenal sekalipun. Itu semua terjadi karena pengguna social media sendiri, yang terbiasa mem-publish status atau pun foto yang bersifat personal. Karena sudah menjadi kebiasaan, kita dengan gampangnya men-judge kehidupan pribadi orang lain hanya dari konten social media-nya. Misalnya, salah satu temen pernah nanya,”Eh, lo udah nggak sama yang kemarin ya?” Saya pun bingung, lalu saya tanya balik,”Emangnya kenapa?” Lalu dia bilang,”Soalnya display picture lo udah nggak sama dia lagi.” Semudah itu. Poin utamanya sih, dengan mem-publish personal life kamu ke dalam social media, kamu harus siap-siap dengan akibatnya, contohnya ya itu, mendapatkan penilaian yang simpang-siur dari banyak pihak dan juga harus siap-siap kehilangan privasi. Dan ini nggak cuma soal pasangan ya, tapi juga berlaku untuk masalah-masalah pribadi kamu, seperti masalah keluarga, masalah pekerjaan, dan masalah apapun yang sebetulnya lebih mengarah ke internal diri kamu sendiri dibandingkan lautan strangers di Internet. 

  1. Don’t write something that you’re unsure of

Friday-Funny-5-23

Ada jutaan informasi yang beredar di Internet, tapi nggak semua yang kamu dengar atau baca di Internet itu adalah fakta. Ada banyak sekali berita-berita yang ternyata ujung-ujungnya hoax, contohnya berita kematian Jackie Chan yang gempar sekitar tahun 2013. Hoax ini pun keulang lagi di 2015. Selain itu, ada juga berita-berita yang muncul di beberapa portal news, dengan konten yang kurang sesuai dengan judul yang ada (biasa, buat ngejar rating). Makanya, pastikan kamu membaca berita tersebut sampai selesai dan mengecek kebenarannya sebelum mem-publish sesuatu.

  1. Just because you can be anonymous, it doesn’t mean it’s OK to be a jerk

Bisa dibilang ini adalah dampak negatif dari kecanggihan teknologi di beberapa social media yang memungkinkan kamu untuk berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus memberitahukan identitas yang sebenarnya. Yang paling nge-hits sekarang adalah Ask.fm, di mana pengguna akun itu bisa mendapatkan beragam pertanyaan apapun dari siapapun. Banyak orang yang menyalahgunakan hal tersebut dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi, bernada menyinggung, memberikan penilaian yang tidak berdasar, dan bahkan secara frontal mengangkat isu-isu sensitif berbau SARA yang tentunya, sangat tidak dibenarkan secara etika. Ingat aja, perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.

  1. Bring more positivity than negativity

Social media itu powerful. Banget. Bisa bikin pengaruh yang besar banget ke banyak orang dalam waktu yang singkat. Biasakan jangan terlalu sering mengumbar emosi yang bernuansa negatif, misalnya kecewa, sakit hati, atau terus-terusan mengkomplain sesuatu. Sudah bukan rahasia umum jika banyak perusahaan yang mengobservasi social media yang kita miliki sebagai salah satu pertimbangan apakah kita akan mendapatkan pekerjaan atau tidak. Lebih baik post sesuatu yang sifatnya bermanfaat atau setidaknya, membuat orang yang membacanya merasa lebih baik.

  1. Yang terakhir, never share your personal information to strangers!

Ini mungkin nasehat paling klise tapi juga paling berbahaya impact-nya. Ada satu kejadian yang cukup ekstrem, yang bisa kamu lihat pembahasannya di sini. Ada seorang remaja cewek bernama Amanda Todd di British Columbia, Kanada, yang mengirimkan foto vulgarnya kepada orang yang nggak dikenal di Internet. Awalnya, semua baik-baik aja sampai akhirnya stranger tersebut menghubungi dia kembali setahun setelah foto itu ia kirim via Facebook, dan mengancam untuk meminta lebih banyak foto dirinya. Kalau enggak, foto tersebut akan disebar ke teman-teman sekolah Amanda. Mulai dari situ, hidup Amanda berubah dan terus-terusan diteror oleh stranger ini sampai akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri pada 2012 lalu.

Ini saya share juga sedikit infographics how to stay safe on Facebook. 

“How will people decide you are, if all they know is your social media page?”

“Kamu Orang Apa?”

Jay Graham Graham Photgraphy 6 Bridge Avenue, #8 San Anselmo, Ca 94960 415-459-6313
Jay Graham
Graham Photgraphy
6 Bridge Avenue, #8
San Anselmo, Ca 94960
415-459-6313

Buat saya, tinggal di Indonesia itu bener-bener pengalaman yang unik banget. Banyak hal yang cuma bisa kita dapetin di Indonesia dibandingkan di negara lain. Kita semua tahu Indonesia itu negara yang diverse banget, dari orang-orangnya, makanannya, budayanya, objek wisatanya, dan lain-lain. Mungkin karena kita terbiasa dengan kondisi yang kayak gini, kita jadi nggak nganggep hal ini sebagai sesuatu yang spesial, tetapi jarang loh, negara yang diverse kayak Indonesia. Begitu nyobain jalan-jalan atau tinggal di negara lain, biasanya baru berasa, nih, uniknya negara sendiri.

Salah satu hal simple aja yang bikin beda, adalah, masalah panggilan. Dari saya kecil, saya selalu dibikin bingung dengan beragamnya panggilan yang bisa digunakan untuk me-refer ke seseorang. Sampai saya umur belasan, saya nggak gitu nangkep sebenernya, kenapa ada orang-orang yang dipanggil begini dan ada yang dipanggil dengan istilah lain.

Baru, deh, ketika udah lebih dewasa saya baru nangkep kenapa untuk urusan panggilan aja bisa berbeda-beda. Lucunya, karakter wajah dan warna kulit saya for some people is not Chinese enough, sehingga sering dikira berasal dari daerah lain. Seringkali juga ketika masuk ke lingkungan yang baru, saya ditanya ,“Karina, kamu orang apa sih?” Pertanyaan ini juga nggak bermaksud menyinggung atau mempermasalahkan etnisitas saya, tetapi nggak tau kenapa, masih lucu aja kalau dapat pertanyaan seperti ini. Saya sendiri suka bingung jawabnya, kalau saya jawab dengan nama kota tempat saya tinggal, biasanya akan ditanya lagi,“Emangnya asli orang sana? Kalau orangtua-nya darimana?” Waduh, makin bingung, karena kebetulan etnis Tionghoa yang berasal dari Tangerang (lebih dikenal dengan nama Cina Benteng) memang sudah lama sekali nge-blend dengan masyarakat Tangerang asli-nya.

Masalah panggilan ini juga a little bit tricky in social setting. Saat saya masuk kuliah, orang-orangnya jauh lebih diverse dibandingkan waktu di SMA. Jadi, saya harus mikir dulu sebelum memanggil orang yang lebih tua, panggilan apa yang tepat nih, ya. Dasar saya memang paling nggak bisa ngebeda-bedain orang dari apa yang kelihatan secara fisik, biasanya sih I go for “Kak”. Dan menurut saya idealnya emang begitu, karena dibeda-bedain emang nggak pernah enak, kalau ada opsi yang paling general, I go for it!

Rasa-rasanya, pertanyaan “Kamu orang apa?” masih cukup sering dilontarkan orang-orang sekitar, termasuk keluarga saya sendiri terhadap teman-teman saya. Saya sih berharapnya, pertanyaan kayak gini bisa pelan-pelan berkurang frekuensinya seiring berjalannya waktu. Sebetulnya kalau hanya ingin tahu dan setelahnya “ya sudah” sih gapapa. Tetapi kalau kebanyakan denger pertanyaan model begini dari kecil, bisa memunculkan perasaan kalau identitas kita tuh berbeda dengan masyarakat yang lain. Padahal, kan, sama aja, lahir dan besar di Indonesia.

Sebelumnya, mohon pengertiannya, post ini nggak bermaksud menyinggung etnis apapun.

And again, diversity is what makes our country beautiful.

Anak Kuliahan: Prediksi dan Kenyataan

article-0-19012E29000005DC-414_634x400

Saya masih inget banget, waktu kelas 3 SMA, rasanya perasaan campur aduk banget di saat semua orang udah mulai milih jurusan dan juga universitas untuk mereka kuliah. Rasanya excited karena itu artinya saya bakalan masuk ke lingkungan yang baru, tapi juga nervous karena saya nggak tau pasti kayak gimana persisnya lingkungan yang baru itu. Perasaan yang paling dominan adalah, curious, pengen tau banget kuliah bakalan kayak gimana, apakah bener seseru yang digambarkan selama ini di film-film dan juga di novel-novel. Ternyata, setelah dijalani selama 4 tahun, kuliah itu beda banget dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya.

Nih, contoh pengakuan mahasiswa-mahasiswi yang udah (atau sedikit lagi) jadi Sarjana!

“Kuliah itu bebas. Tapi ga berarti selamanya enak. Waktu SMA hidup gue lebih teratur dan jelas, habis pulang sekolah, ikut kursus, ngerjain PR, terus tidur. Ternyata waktu kuliah, waktunya memang lebih bebas, tapi nggak enak soalnya harus mikir sendiri gimana cara bagi waktunya. Yang ada malah pusing atur kegiatan dan ujung-ujungnya nggak banyak waktu kosong. Terus, tugasnya banyak. Boro-boro mau dugem, kalau ada waktu kosong lebih baik buat tidur. Terus gue dulu mikir kalau mahasiswa itu aktif ikut demo, tapi ternyata dari seluruh mahasiswa yang ada di fakultas gue, paling cuma 2 orang yang turun ke jalan. Dulu sih pengennya jadi aktivis gitu kayak Soe Hok Gie, tapi buat belajar ujian aja kadang nggak ada waktu, apalagi ikut-ikut demo.” –E, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran, angkatan 2011

“Gue ngebayangin gue bakal masuk ke dunia yang fun, dan dapat banyak teman-teman baik yang punya common interests sama gue. Nyatanya, gue sama sekali nggak nyambung sama teman-teman sekelas, dan cuma punya beberapa temen baik yang bisa dihitung pakai jari. Tapi serunya adalah ikut organisasi dan dapat banyak koneksi dari sana. Eh, tapi mungkin ekspektasi gue kali yang awalnya ketinggian, haha.” –N, Fakultas Manajemen Bisnis, Prasetiya Mulya Business School, angkatan 2011

“Dulu gue pikir, anak kuliah yang sukses itu adalah yang pergaulannya luas dan setiap weekend hang out ke tempat-tempat keren sama temen-temennya. Sekarang yang gue liat, nggak selamanya mahasiswa yang gaul itu masuk kategori sukses. Buat gue, mereka yang sukses adalah anak kuliahan yang bisa balance antara social life dan juga prestasi akademiknya. Terus, dulu gue pikir, gue harus masuk universitas bagus biar masa depan sukses. Nggak juga ya ternyata. Di kampus-kampus terbaik juga banyak yang bolos kuliah dan nggak lulus, dan banyak juga temen-temen gue dari kampus yang namanya biasa aja tetapi mereka luar biasa sukses baik secara akademik maupun sosial.” –K, Fakultas Teknik Industri, Universitas Indonesia, angkatan 2011

“Gue selalu kira kalau kuliah itu proses yang bakal bikin mahasiswanya siap untuk kerja kalau udah lulus. Tapi ternyata gue gak merasa 100% siap untuk kerja setelah lulus. Mungkin juga karena konstruksi emang bidang yang lebih butuh pengalaman praktik daripada hanya teori. Gue ngerasa kurang banyak praktik di dunia nyata.” –A, Fakultas Teknik Sipil, Universitas Parahyangan, angkatan 2011

“Sebelum gue kuliah gue kira dunia kuliah sama kayak SMA, di mana kita dinilai based on nilai. Tapi setelah ngalamin sendiri, kuliah itu proses pendewasaan banget sih. Nggak semuanya dinilai dari hasil akademik, tapi juga bagaimana kita kerja di dalam satu kelompok atau organisasi, cara berkomunikasi sama orang lain, dan soal tanggungjawab. Gue ngerasa banget sekarang kalau masa depan gue ada di tangan gue sendiri waktu kuliah. Kalau malas ya nggak lulus-lulus.”-A, Fakultas Hukum, Universitas Atma Jaya, angkatan 2011

“Gue mikirnya anak kuliahan itu super individualis, yang ngerjain apa-apanya sendiri dan nggak kayak waktu di SMA. Tapi ternyata enggak gitu juga, karena gue punya temen-temen yang saling mendukung gitu waktu kuliah.” –G, Fakultas Desain Interior, Universitas Bina Nusantara, angkatan 2011

Nggak selamanya yang kita bayangkan waktu SMA, bakalan kejadian waktu kuliah. Bisa jadi berbeda sekali, tapi juga bisa jadi ada benarnya. Ada banyak banget faktor yang bisa bikin satu pengalaman di satu universitas berbeda dengan universitas lainnya. Dan satu-satunya cara untuk bisa sepenuhnya paham gimana rasanya jadi anak kuliahan, ya dengan menjadi anak kuliah beneran.

So, buat yang masih SMA, curious boleh, harus malah, biar kamu nggak kaget waktu jadi mahasiswa baru. Tapi jangan terlalu banyak mikir juga, dijalanin aja, dan seiring berjalannya waktu, kamu akan tau sendiri bagaimana rasanya menjadi pribadi yang (hopefully) lebih dewasa semasa perkuliahan!

Cara Mengurus Visa Schengen

vs

Kali ini saya ingin berbagi informasi tentang bagaimana cara mengurus Visa Schengen, khususnya melalui Kedutaan Besar Republik Ceko. Per Oktober 2016, saya sudah dua kali mengurus Visa Schengen, dan untungnya, saya belajar banyak dari proses pengurusan Visa yang pertama sehingga untuk mendapatkan Visa yang kedua menjadi jauh lebih mudah.

Bagi yang belum tahu, Visa Schengen merupakan jenis Visa yang wajib dimiliki untuk setiap orang dari luar Uni Eropa ketika ingin mengunjungi negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Misalnya, orang Indonesia yang ingin bepergian ke Belanda atau Jerman. Untuk daftar negara yang termasuk ke dalam Uni Eropa bisa dilihat di sini.

Jenis Visa-nya sendiri ada banyak, tetapi yang saya bahas di sini adalah jenis Visa Short Stay (untuk mereka yang bepergian kurang dari 90 hari). Ada beberapa langkah penting yang harus kamu lakukan sebelum mulai mengurus dokumen-dokumen untuk pengajuan Visa:

  • Pastikan di negara mana kamu akan menghabiskan waktu paling banyak. Kenapa? Karena melalui Kedutaan Besar negara ini-lah, kamu bisa mengajukan Visa Schengen. Jika kamu akan menghabiskan jumlah hari yang sama di setiap negara yang ingin dikunjungi, kamu bisa mengajukan Visa Schengen di perwakilan negara yang menjadi point of entry kamu nantinya.
  • Tentukan tanggal keberangkatan dan juga tanggal kepulangan. Meski belum tahu pasti rencana perjalanan secara detail, dua tanggal penting ini harus kamu tetapkan dulu.
  • Tentukan juga mau mengurus sendiri aplikasi Visa ini atau melalui bantuan pihak ketiga (agen). Saran saya sih, kalau kamu punya banyak waktu, dan malas berurusan sama orang lain untuk masalah pengumpulan dokumen-dokumen, lebih baik urus sendiri. Tetapi, kalau malas mencari informasi yang diperlukan, dan tidak punya banyak waktu, boleh juga menunjuk pihak ketiga tersebut (biayanya kurang-lebih bertambah sekitar 30% dibandingkan fee jika mengurus sendiri).

Jika sudah, kamu sudah bisa mulai mempersiapkan dokumen-dokumen di bawah ini:

  1. Formulir permohonan Visa Schengen (bisa didapatkan secara online di website kedutaan Besar yang dituju). Tinggal diisi saja sesuai setiap butir pertanyaannya.
  2. Foto 3.5x4cm. Usahakan foto yang memperlihatkan wajah kamu secara jelas, termasuk bagian alis dan telinga. Foto terbaru ya, idealnya paling lambat diambil 6 bulan terakhir
  3. Paspor. Cek dulu ya, masa berlaku paspor minimal 90 hari setelah masa validitas Visa yang diminta, dan minimal punya 2 halaman kosong.
  4. Fotokopi halaman depan paspor.
  5. Fotokopi Visa Schengen (jika sudah pernah punya dalam 3 tahun terakhir)
  6. Bukti tujuan kunjungan; disesuaikan dengan tujuan kamu bepergian. Kalau untuk pertukaran pelajar atau sejenisnya, biasanya ada keterangan dari pihak organizing committee tentang kegiatan tersebut. Untuk tujuan traveling, saya tidak berikan dokumen apa-apa untuk poin ini. Jangan lupa sesuaikan bukti tujuan kunjungan ini dengan apa yang kamu tuliskan di formulir permohonan visa, ya.
  7. Bukti akomodasi; kalau kamu mau traveling, cantumkan voucher hotel di mana kamu akan menginap. Voucher hotel ini idealnya ada logo, stamp, tandatangan resmi dari pihak hotel dan juga mencantumkan nama lengkap, nomor paspor, dan tanggal checkin serta check-out. Kalau kamu ikut pertukaran pelajar atau sejenisnya, cantumkan surat proof of accommodation di mana kamu akan tinggal, misalnya di apartemen, host family, dan sebagainya. Untuk mendapatkan voucher hotel resmi sendiri caranya gampang-gampang susah. Yang paling enak memang kalau kamu jujur, kamu tinggal minta voucher tersebut dari hotel yang akan kamu benar-benar tinggali nantinya. Tetapi, seringnya, kita belum tahu pasti mengenai itinerary detail kita selama di sana. Apalagi untuk mereka yang traveling ala-ala backpacker gitu, kan. Jadi biasanya kamu bisa mencantumkan konfirmasi booking hotel dari agen online, seperti Agoda, Booking.com, dsb. Lalu, setelah Visa diproses, kamu batalkan booking-an tersebut (yap, maka kamu harus cari hotel yang ada promo “free cancellation”-nya). Tetapi, karena lumayan insecure, saya sendiri belum pernah pakai cara ini. Saya mencari hotel yang ada di negara atau kota yang ingin saya tuju melalui Booking.com dengan policy free cancellation tadi, lalu saya tuliskan pesan secara personal sebelum melakukan booking di web tersebut, yang intinya meminta voucher hotel by e-mail karena saya butuh voucher itu untuk keperluan Visa. Ada hotel yang menolak memberikan, karena most likely mereka sudah tahu saya akan langsung cancel setelah saya dapat voucher-nya. Mereka mengharuskan saya membayar sejumlah uang terlebih dahulu sebagai “tanda jadi”. Saya cari hotel lain dan akhirnya ada juga yang bersedia mengirimkan voucher hotel resmi tanpa deposit uang sepeser pun! Akhirnya voucher hotel ini yang saya gunakan.
  8. Surat Keterangan Kerja; surat dari perusahaan atau lembaga di mana kamu bekerja, yang intinya menuliskan identitas, posisi pekerjaan kamu, serta statement bahwa kamu tidak akan mencari pekerjaan dalam bentuk apapun di Uni Eropa dan kamu akan segera kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pekerjaan kamu yang ini. Jangan lupa harus ada kop surat resmi dari perusahaan, stamp, dan tandatangan dari perwakilan perusahaan. Kalau kamu masih belajar, bisa mencantumkan surat keterangan dari kampus.
  9. Bukti Keuangan; biasanya berupa buku tabungan bank dengan nama kamu atau nama pihak keluarga yang menjadi sponsor kamu. Tidak dicantumkan secara pasti berapa jumlah saldo yang diminta, tetapi untuk perkiraannya ada di website Kedubes masing-masing. Contohnya, yang saya alami, adalah sekitar 60 EURO per hari untuk masa kunjungan kurang dari tiga puluh hari. Akan lebih baik jika dalam buku tabungan tersebut, ada arus uang keluar-masuk yang rutin.
  10. Asuransi perjalanan; sekarang ini banyak sekali perusahaan asuransi yang menyajikan paket asuransi perjalanan dengan beragam benefit dan kelas. Tinggal konsultasikan aja langsung ke orang asuransi, ya. Biasanya bilang untuk Visa Schengen, mereka sudah tahu paket seperti apa yang dibutuhkan. Ada juga asuransi perjalanan yang praktis, bisa online buatnya, cepat, mudah, dan uang bisa dikembalikan jika nantinya Visa ditolak. Harga tergantung jumlah hari perjalanan dan jenis paket coverage yang kamu pilih.
  11. Bukti pemesanan tiket pesawat; umumnya bentuknya dari online ticket resmi yang di e-mail dari airline. Usahakan pilih jenis flight yang bisa di-refund jika nantinya kamu tidak jadi berangkat. Diusahakan pembelian langsung dari maskapai, jangan dari website-website seperti Skyscanner, dll karena takut dianggap kurang valid.
  12. Uang untuk membayar biaya Visa. Per Oktober 2016, saya membayar Rp 981.000 untuk Visa Short Stay. Uang dibawa cash dan dibayarkan pada saat melakukan wawancara Visa.
  13. Fotokopi kartu keluarga.
  14. Surat pernyataan ijin dari orangtua untuk bepergian.
  15. Surat sponsor dari orangtua atau saudara kandung (jika menggunakan buku tabungan milik mereka untuk poin bukti keuangan).

Jangan lupa, semua surat dibuat dalam bahasa Inggris. Jika dokumen sudah siap semua, kamu bisa membuat janji temu secara online di website Kedubes yang bersangkutan. Lalu, bawa semua dokumen dan ikuti wawancaranya. Biasanya yang ditanyakan seputar, berapa hari akan ada di sana, untuk apa tujuan bepergiannya, akan mengunjungi negara mana saja. Pertanyaannya mudah, kok, biasanya yang bikin kita nggak bisa jawab adalah karena emang belom disiapin jawabannya. Misalnya, belum jelas, mau ke negara mana saja di Eropa-nya, atau belum jelas, mau nginap di mana. Hal-hal kayak gitu sebaiknya dipersiapkan matang-matang dulu sebelum janji wawancara.

Jika nanti memang ada dokumen yang kurang, akan disuruh datang lagi di waktu yang lain. Oh iya, proses pengajuan Visa bisa dilakukan paling cepat 3 bulan sebelum tanggal keberangkatan dan paling lambat 3 minggu sebelum tanggal keberangkatan. Prosesnya sendiri paling cepat 5 hari kerja, dan paling lama bisa sampai 15 hari kerja. Kalau sudah beres, paspor kita akan ditinggal di sana untuk ditempeli stiker Visa. Lalu, akan diminta sidik jari kita secara digital. Beres sudah!

Intinya sih, kalau memang dokumen yang diminta semua sudah lengkap, dan informasi yang kamu berikan benar, nggak ada alasan bagi pihak Kedutaan untuk menolak permohonan pengajuan Visa kamu.

Good luck buat yang ingin jalan-jalan ke Eropa!

Kepala Dua

wendy-darling

Oktober 2015. Tiba-tiba udah Oktober 2015.  Rasanya saya masih sering berfikir sekarang masih tahun 2010 atau 2008. Tiba-tiba saya udah menuju 23 tahun. Salah satu teman saya pernah bilang,“Anak yang sekarang masuk SMP, itu kelahiran tahun 2002, loh. Gila, tua banget ya kita!”

You know you’re getting older when you’re not excited anymore about birthday(s), haha. 

Menjadi lebih dewasa emang nggak selamanya menyenangkan. Tetapi menjadi lebih tua dan lebih tua setiap tahunnya membuat saya sering melihat kembali ke tahun-tahun sebelumnya; melihat apa yang berubah, melihat apa aja yang udah terjadi, yang gagal dan kurang berhasil, dan pastinya terus belajar supaya menjadi pribadi yang lebih baik. Dan, buat saya, menengok ke belakang itu perlu dan somehow, menyenangkan juga, melihat bagaimana kita sebagai manusia terus berkembang melalui setiap fase hidup. Sejak menggeluti rutinitas di bidang pendidikan, setiap harinya saya bertemu orang dari berbagai macam usia, mulai dari anak TK, anak SD, remaja, orangtua muda, sampai Oma-Oma yang mengantar cucunya. Ketemu dengan orang dari berbagai macam usia lebih-lebih lagi membuat saya mikir, udah ngapain aja selama 20-an tahun ini.

10 years behind, saya ada di SMP. Setiap hari isinya cuma sekolah, les musik, dan bersosialisasi (baca: gaul sama teman-teman). Ini nih fase dengan jumlah selfie terbanyak, fase dengan frekuensi hang-out terbanyak, dan fase yang lagi labil-labilnya, sampai bikin saya malu buat menengok ke belakang. Waktu SMP sih rasa-rasanya teman dan lingkaran pergaulan itu nomor satu. Nggak pengen banget left behind sendirian kalau ada acara-acara. Rasanya penting banget untuk dikenal banyak orang, or at least, feels belong to some group. Nonton, photo box, datengin acara cup antarsekolah, telfonan sama temen, and so on.

Ini juga fase yang super labil, too excited to be more grown-up and starting to date some boys without exactly knowing what I’m drowning myself into, without exactly knowing what’s good and bad for myself. Yang namanya pacaran isinya cuma drama, deg-degan gak jelas karena nggak pernah cerita ke orangtua, stress sendiri mikirin kalau lagi berantem, dan kualitas pacarannya juga super nggak jelas, kebanyakan cuma SMSan nonstop untuk ngomongin hal-hal cheesy. Nggak jelas mulainya, nggak jelas juga putusnya.

Masuk di SMA, mulai banyak yang berubah. Frekuensi hangout pelan-pelan mulai nggak seintens di SMP. Saya juga sudah nggak terlalu peduli sama lingkaran pergaulan, makin lama ngerasa makin susah cocok juga sama teman-teman di sekolah. Setiap orang makin kelihatan personality-nya, and it turns out not everyone is get along with mine, and it’s okay not to be align with everyone. Jadi, hang out seperlunya saja sama teman-teman yang emang cocok sama kita, dari segi apa yang diomongin, cara pikir, interests, dan sebagainya. Ada sih high school drama sedikit-sedikit yang dibumbui oleh social media war, kalau nggak, bukan SMA namanya. Sisa waktu dipakai untuk belajar (thanks to the school of choice karena ulangannya nggak berhenti-berhenti), kursus musik (tetep), dan ikut kegiatan-kegiatan yang saya suka; voli, orkestra, dan jurnalistik. Highlight of these years mungkin attending acara sweet 17th teman-teman. Secara personal, saya menjadi lebih kenal diri saya sendiri, misalnya bidang ilmu yang saya suka dan yang saya tidak suka. Masuk-lah ke IPS, karena struggling dengan angka-angka terutama pelajaran Kimia selama 2 tahun, nggak kedengeran menyenangkan buat saya. Turns out, itu pilihan yang tepat karena kuliah saya dikit banget itung-itungannya.

Gaya pacaran juga lebih berkembang (ceilah). Going on dates really means going on a date, nonton, makan, jalan-jalan, dan sebagainya. Yang diomongin juga lebih penting, termasuk juga apa yang diberantemin. Banyak teman saya yang pasangannya sampai sekarang masih sama dari pacar waktu SMA. Mungkin saya belum ketemu jodoh yang pas, karena setelah dijalani lebih dari 4 tahun, ujung-ujungnya putus karena alasan paling klise sejagad raya: pasangan selingkuh. Tetapi, lagi-lagi, every experience brings something to learn. Setelah dipikir-pikir, pacar saya waktu itu, di balik kasus selingkuh yang super hits, juga menunjukkan tanda-tanda emotionally abusive, bisa dibilang. Ya sudah, dunia serasa hancur, tapi cuma beberapa minggu kok, habis itu, hidup jalan lagi seperti biasa, masih ada teman-teman, keluarga, dan rutinitas yang saya sayangi.

Setelah lewat segala macam ujian di sekolah, ditutup dengan acara prom night (super kangen SMA), saya masuk dunia perkuliahan per pertengahan 2011. Karena kuliah di kota yang sama, nggak terlalu banyak perbedaan ya kalau dibandingkan sama teman-teman yang pindah kota dan harus ngekost untuk kuliah. Yang pasti, kuliah sama sekali nggak seru kalau dibandingkan SMA. Ibaratnya, kalau ada kesempatan untuk ngulang masa lalu, saya pasti pilih SMA dibandingkan kuliah. Awalnya, saya juga sempet sedih karena teman-teman dekat saya dari SMA kebanyakan kuliah di luar negeri dan luar kota, dan tidak ada teman dekat yang masuk di universitas yang saya pilih.

Ada banyak banget mahasiswa di satu angkatan perkuliahan, dan semuanya datang dari background yang berbeda-beda. Udah gitu, teman-teman sekelas di universitas saya mutlak sama dari semester 4 sampai lulus, which means, nggak banyak waktu untuk bisa kenalan dengan anak dari kelas lain. Ikut kepanitiaan pun cuma awal-awal doang karena peer pressure (ha-ha), sisanya saya cuma ikut kegiatan sesekali yang saya suka. Bisa dibilang juga universitas di mana saya kuliah, mahasiswanya jauh lebih individualis dibandingkan di tempat lain (ini murni opini saya sih).

Ada enaknya, yaitu nggak ada yang peduli tentang eksistensi saya, dan anak-anaknya pun tidak terlalu suka membicarakan mahasiswa lain (kecuali kamu super nyebelin sehingga menjadi public enemy, atau kamu super kece sehingga menjadi anak gaul yang dikenal seisi kampus). Jadi, mau berpenampilan lusuh atau badai, mau bawa mobil atau motor, mau IPK nyaris 4 atau ngulang-ngulang kelas di semester pendek, nggak gitu ada pengaruhnya, kamu nggak bakal diomongin sampe gimana banget. Tapi, nggak enaknya adalah, susah mencari temen yang benar-benar temen (at least buat saya). Saat saya dekat sama teman, itu cuma karena harus ngumpul bareng karena asas pengerjaan tugas. Begitu tugas beres, komunikasi antar kami juga beres. Ada sih temen deket dari kuliah, tapi cuma hitungan jari . Rutinitas kampus dipenuhi dengan belajar kalau mau ujian, ngerjain tugas, ngumpul buat bahas tugas atau belajar bareng, presentasi, dan ujung-ujungnya, skripsi. Aktivitas di kampus padat banget, jadi setiap ada waktu kosong, pengennya dipakai buat santai-santai sendiri atau buat orang-orang terdekat.

Fase yang sekarang saya jalani adalah fase setelah-lulus-kuliah. Fase paling nggak terprediksi dan kalau diceritakan bisa jadi panjang banget, jadi saya harus tulis di post berikutnya.

Nge-Blog (Lagi?)

coffee

Untuk ke-sekian kalinya, saya mulai aktif nge-blog lagi, dengan domain dan nama blog yang berbeda, lagi. Maafkan saya yang seenaknya. Saya sendiri juga masih mencari bentuk untuk kumpulan tulisan saya, baik dari segi konten, gaya penulisan, dan juga domain. Jadi, mari sama-sama berharap kalau ini adalah blog terakhir saya.

Awal banget saya nge-blog adalah jaman SMA, di mana pada satu masa hampir semua anak di kelas punya blog, dan plus karena saya suka menulis . Lalu pindah ke model tumblr yang penuh dengan curhatan personal dengan quotes-quotes cantik. Pindah lagi ke domain yang lain dengan model tulisan yang lebih ke-kinian, lebih dewasa, dan nggak personal-personal banget.

Saya mulai bingung ketika beberapa bulan lalu mendapat tawaran pekerjaan untuk menjadi penulis di satu online media yang target pembacanya remaja Indonesia, sehingga tulisannya pun harus full dalam bahasa Indonesia. Lalu saya bingung. Karena sudah lama sekali nggak menulis dalam bahasa Indonesia. Saya mencoba menulis beberapa artikel pendek, tetapi nadanya terdengar kaku, nggak komunikatif, dan saya ngerasa susah menyampaikan inti dari kalimat saya. Akhirnya, saya nggak jadi ambil tawaran tersebut, dan memutuskan untuk kembali belajar menulis dalam bahasa Indonesia.

Selain itu, ide tulisan saya pun sebenarnya banyak yang ditujukan khusus untuk orang Indonesia karena lebih relevan. Tetapi selama ini saya tulis dalam bahasa Inggris di blog ini. Alasannya, karena lebih terbiasa dan tulisan rasanya lebih mengalir pakai bahasa Inggris.

Dengan menulis di blog yang sekarang ini, saya harap lebih banyak orang yang bisa memahami dan mengambil manfaat dari apa yang saya tulis.

Jadi, begitulah kurang-lebih kenapa saya memulai blog baru ini. Mungkin bakal terdengar kaku, aneh, dan sedikit terlalu formal, tapi semoga membaik seiring berjalannya waktu, ya.

Kebanyakan isi dari blog ini bakalan seputar personal improvement, daily tips, feature, dan topik apa-pun yang sedang saya ingin tulis, dari sudut pandang saya, cewek biasa-biasa aja yang sedang mengisi kekosongan waktu setelah mendapatkan gelar Sarjana (ketahuan nganggur-nya).

Enjoy this blog dan silahkan datang lagi, ya.